Tepatnya tanggal 2 April 2013,
“Bioskop SMAN 1 Palu” di gelar kembali untuk yang ke tiga kalinya semenjak
tahun 2011 yang bertempat di Gedung Tertutup Taman Budaya Palu -
Sulteng, dengan biaya masuk senilai Rp.5000.
Ini terbilang murah dengan kualitas film remaja yang menurut saya sebagai
kacamata penonton saat itu dapat bersaing dengan tingkat diatas mereka.
Rencananya akan diadakan pemutaran sesi kedua dengan film yang berbeda dalam
selang beberapa hari kedepannya. Pembuatan film ini dikhususkan bagi Pelajar
SMAN 1 Palu yang duduk di bangku kelas 3. Ini sebagai salah satu tugas praktek
akhir semester MaPel TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Kabarnya, tahun
ini praktek Film ini akan menjadi Ekstrakulikuler yang ditetapkan sekolah
tersebut.
Malam itu, pemutaran yang
berlangsung semenjak pukul 20:00 ini berlangsung dengan persiapan yang menurut
saya sangat kurang. Sebenarnya sangat teknis sekali, tapi ini juga harus sangat
diperhatikan demi mencapai pada situasi yang semestinya, meskipun pemutaran ini
terbilang merupakan sebuah wadah kreatifitas kecil – kecilan yang menurut saya
tidak kecil. Sekitar 7 film diputar pada Bioskop tersebut dengan beragam genre,
mulai dari yang bertemakan sosial, asmara,
petualang, komedi, dan horor.
Dari sisi teknisi di bagian audio
saat pemutaran terlihat betapa kurangnya pengecekan kembali dan kapasitas
volume yang dikeluarkan serta mixing yang kurang diperhatikan, akhirnya audio
yang dikeluarkan dari hasil film yang diputar “Over Bass”. Hal itu berpengaruh
pada kualitas audio film yang di outputkan ke pengeras, dampaknya sangat fatal.
Film yang seharusnya mempunyai audio yang bagus akhirnya harus menanggung
kecewa setelah mendengar hasil yang dikeluarkan melalui pengeras tersebut. Ya,
meskipun ini pemutaran kecil – kecilan, tapi penonton yang hadir pada saat itu
beragam. Akhirnya, pandangan mereka dari sisi teknis film itu negatif, padahal
sebenarnya persoalan ada pada sisi teknisi audio saat pemutaran. Dari sisi persiapan
sebelum dan saat pemutaran itu berlangsung juga masih kurang diperhatikan. Saya
kurang tau, apakah aturan – aturan pakem yang semestinya harus diberitahukan sebelum
memasuki pemutaran itu disampaikan atau tidak? Saya rasa memang tidak
diberitahukan, penonton menjadi bebas untuk melakukan apa saja sementara sikon
yang seharusnya tidak seperti itu, karena kita dalam konteks menonton sebuah
pemutaran atau pertunjukan. Baguslah jika aturan – aturan itu memang tidak
disampaikan, karena jika sudah diberitahukan tetapi keadaan penonton terlihat
sama dengan saat aturan tersebut tidak diberitahukan, maka betapa miris
penonton pertunjukan di Kota Palu ini. Seharusnya, penonton yang terlihat
mayoritas pelajar itu sudah sebenarnya paham tentang aturan – aturan penonton.
Jika belum, maka sangat perlu mereka di
tekankan untuk mengerti bagaimana menjadi sebuah penonton yang serius.
Karya - karya tahun ini memang
memiliki kemajuan yang pesat, mulai dari sisi teknis gambar, audio, dan ide.
Tapi saya pribadi lebih fokus kepada persoalan ide tersebut. Tahapan serta
tahapan pembuatan karya baik itu film, teater, musik, maupun tari itu harus
mempunyai alasan – alasan yang jelas. Ini bukan sesuatu yang harus dikejar
deadline seperti halnya SINETRON dan FTV, karena ini berbicara mengenai karya
yang serius, apalagi soal kenapa harus mengangkat itu, dan sebenarnya lebih
menuju kepada dampak dari hasil karya itu karena kita menyuguhkan sesuatu
kepada penonton yang minimal dapat memberikan pembelajaran untuk mencerdaskan,
dan lebihnya lagi kepada persoalan paradigma. Seperti yang kerap kita temukan
di Televisi, sekitar 80% kita disuguhkan sebuah film yang lebih banyak
menyenggol kepada persoalan asmara. Itu pembelajaran seperti apa? Akhirnya,
dampak yang dihasilkan dari film tersebut
sangat tidak bisa diharapkan untuk kemajuan bangsa. Belum lagi dengan
musik – musik yang notabene hampir sama arahnya dengan film – film tersebut.
Kalau mau jujur, sebenarnya mereka membuat efek yang salah terhadap negeri ini.
Kenapa mereka yang seperti itu harus di manage? Sementara banyak orang – orang
denga karya – karya serius yang semestinya dan seharusnya dibantu malah tidak
diperhatikan.
Sangat berharap untuk pemutaran
selanjutnya bisa di perhatikan lagi untuk persoalan – persoalan kesiapannya, sebenarnya
lebih merujuk ke masalah teknis saja. Meskipun ini pemutaran kecil – kecilan,
setidaknya ini sangat berharga menurut saya. Minimal juga mereka diajar
bagaimana mempertanggung jawabkan karya mereka dan diajar untuk berbicara di
depan publik demi karyanya.
Lain dari pada hal itu, kiranya
saya dapat memberikan apresiasi yang sebesar- besarnya kepada pelajar SMANSA
yang telah menyuguhkan sebuah tontonan yang patut untuk kita jadikan
pembelajaran untuk menuju kepada kecerdasan dan akhirnya juga dapat bermuara
baik kepada persoalan paradigma orang – orang disekeliling kita. Dari sekolah
seharusnya merasa bangga dengan adanya potensi – potensi, minat, dan bakat siswa(i)
mereka. Dorongan dan dukungan itu sangat diperlukan. Saya juga berharap ini
akan terus berlanjut, karena pencarian bibit – bibit generasi bermula dari
sini. Orang – orang yang serius bisa dilihat dari karyanya, dan pelajar –
pelajar SMANSA yang serius di bidang ini akan terlihat nantinya bahwa mereka
tidak akan berhenti di Bioskop ini. Saya pribadi juga tidak mematok mereka
harus ke bidang itu. Biarkan mereka mencari, biarkan mereka menemukan dan terus
menemukan hingga akhirnya akan berpijak pada kenyamanan mereka sendiri.
Salam
Ichsanul
Amal (ICHEN)
Palu,
6 April 2013
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact